Bahan Organik Perairan

Posted on

Bahan organik adalah kumpulan beragam senyawa-senyawa organik kompleks yang sedang atau telah mengalami proses dekomposisi, baik berupa humus hasil humifikasi maupun senyawa-senyawa anorganik hasil mineralisasi dan termasuk juga mikrobia heterotrofik dan ototrofik yang terlibat dan berada didalamnya (Madjid, 2008).

Semua bahan organik mengandung karbon (C) berkombinasi dengan satu atau lebih elemen lainnya. Bahan organik berasal dari tiga sumber utama yaitu (Effendi, 2007);

  1. Alam, misalnya minyak nabati dan hewani, lemak hewani, alkaloid, selulosa, kanji, gula dan sebagainya.
  2. Sintesis, yang meliputi semua bahan organik yang diproses oleh manusia.
  3. Fermentasi, misalnya alkohol, aseton, gliserol, antibiotika, dan asam; yang semuanya diperoleh melalui aktivitas mikroorganisme.

Bahan organik dalam perairan dapat dibagi atas dua bagian yaitu : bahan organik terlarut yang berukuran < 0.5 μm dan bahan organik tidak terlarut yang berukuran > 0.5 μm. Jumlah bahan organik terlarut dalam perairan biasanya melebihi rata-rata bahan organik tidak terlarut. Hanya berkisar 1/5 bahan organik tidak terlarut terdiri dari sel hidup. Semua bahan organik ini dihasilkan oleh organisme hidup melalui proses metabolisme dan hasil pembusukan (Anonim, 2008).

1. Bahan Organik Terlarut

Bahan organik terlarut dalam perairan berasal dari empat sumber utama yaitu:

  • Daratan

Bahan organik terlarut dari daratan diangkut ke perairan melalui angin dan sungai. Bahan organik terlarut yang berasal dari air sungai, bisa mencapai 20 mgC/l, terutama berasal dari pelepasan humic material dan hasil penguraian dari buah-buahan yang jatuh di tanah. Penambahan bahan organik secara perantara alami dalam bentuk sewage (kotoran) dan buangan industri. Sebagian besar sudah siap dioksidasi dan segera membusuk karena bakteri dalam perairan. Namun dalam batasan badan air, seperti estuarin, kebutuhan oksigen secara biologi terpenuhi dikarenakan kondisi anoksik tersedia (Anonim, 2008).

  • Penguraian organisme mati oleh bakteri

Ada dua mekanisme penguraian organisme mati yaitu secara autolisis dan bakterial. Di alam kedua mekanisme ini bekerja secara bersamaan. Tingkat penguraiannya tergantung pada kondisi kematian serta sampai tersedianya enzim dan bakteri yang diperlukan. Dalam proses autolisis, reaksi penguraian terjadi karena adanya enzim di dalam sel dan hasilnya selanjutnya akan dilepaskan ke dalam badan perairan (Anonim, 2008).

Menurut Johanes (1968) dalam Riley dan Chester (1971), ekresi dari mikroorganisme seperti protozoa merupakan sumber yang penting dari bahan organik karbon. Proses pelepasan nitrogen dan fospor dari organisme mati dalam air laut terjadi dengan cepat. Waksman, et al (1938) dalam Riley dan Chester (1971) telah menemukan bahwa setengah dari nitrogen yang ada dalam zooplankton mati, diubah menjadi amonia dalam waktu 2 minggu dan fospat dilepaskan dengan cepat (Anonim, 2008).

Skopintsev (1949) dalam Riley dan Chester (1971) menyatakan bahwa 70 % organik karbon tidak terlarut di dalam kultur alga mati akan dioksidasi menjadi karbondioksida (CO2) dan setelah enam bulan ditemukan sekitar 5% yang diubah kedalam bahan organik terlarut (Anonim, 2008).

  • Hasil metabolisme alga terutama fitoplankton.

Hasil fotosintesis alga akan melepaskan sejumlah bahan ke dalam badan perairan. Produksi ini penting sebagai sumber energi untuk organisme laut lainnya dan juga berperan dalam kontrol ekologi. Asam amino dan karbohidrat merupakan bahan yang dikeluarkan secara dominan oleh spesies khusus seperti Olisthodiscus sp (Hellebust, 1965 dalam Riley dan Chester 1971) (Anonim, 2008).

  • Eksresi zooplanton dan binatang laut lainnya.

Eksresi zooplankton dan binatang laut lainnya menjadi sumber penting bahan organik terlarut di laut. Bahan-Bahan yang dikenal secara prinsip adalah Nitrogenous seperti urea, purines (allantoin dan asam uric), trimethyl amine oxide dan asam amino, trimethyl amine oxide dan asam amino (glycine, taurine dan alanine).

2. Bahan Organik Tidak Terlarut

Sumber bahan organik tidak terlarut dalam perairan (Anonim, 2008):

-         Di bawah air sungai (4,2 – 109 gC/ l) berukuran lebih kecil dari rata-rata produksi primer di laut ( 4 – 1016 gC/ l).

-         Sebagian besar particulate organik matter dilaut dihasilkan oleh beberapa organisme penghasil utama seperti fitoplankton, makroalga dan bakteri kemoautotrofik. Produksi utama ini dihasilkan oleh fotoautotrofik nanoplankton (berdiameter 2,0 – 20 μm).

-         Sekitar 10 % dihasilkan dari tanaman dalam bentuk senyawa, berat molekulnya ringan seperti asam amino, asam trikarboksilik. Hasil ini dengan cepat dikonsumsi oleh bakteri.

-         Hasil agregasi dan pengendapan dissolved organic matter dari laut.

-         Pada subsurface dalam waktu tertentu butir-butir fecal zooplankton merupakan komponen yang terbesar dari bahan organik tak terlarut.

Sifat senyawa-senyawa organik pada umumnya tidak stabil dan mudah dioksidasi secara biologis atau kimia menjadi sanyawa stabil, antara lain menjadi CO2 dan H2O. Proses inilah yang menyebabkan konsentrasi oksigen terlarut dalam perairan menurun dan hal yang menyebabkan permasalahan bagi kehidupan akuatik. Bahan organik bersifat isomerisme, beberapa jenis bahan organik memiliki rumus molekul yang sama. Apabila bereaksi dengan senyawa lain berlangsung lambat karena bukan terjadi dalam bentuk ion melainkan dalam bentuk molekul (Achmad, 2004).

Secara normal bahan organik tersusun oleh unsur-unsur C, H, O, dan dalam beberapa hal mengandung N, S, P dan Fe. Karbon, yang merupakan penyusun utama bahan organik, merupakan elemen/unsur yang melimpah pada semua makhluk hidup. Senyawa karbon adalah sumber energi bagi semua organisme. Keberadaan karbon anorganik dalam bentuk CO2, HCO3ˉ, dan CO3ˉ mengatur aktivitas biologi perairan (Effendi, 2007).

Bahan-bahan organik yang ada di perairan antara lain dalam bentuk, Karbohidrat (CHO), bahan-bahan organik yang mengandung karbon, hidrogen dan oksigen misalnya glukosa (C6H12O6) dan selulosa. Senyawa nitrogren (CHONS), bahan organik yang mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan kadang-kadang sedikit sulfur misalnya protein, asam amino, dan urea. Lemak (CHO), yakni bahan organik yang mengandung karbon, hydrogen, dan sedikit oksigen. Lemak memiliki sifat kelarutan yang buruk dalam air, akan tetapi larut dalam pelarut organik (Effendi, 2007).

Adapun peranan bahan organik di dalam perairan adalah sebagai berikut (Effendi, 2007).:

  • Sumber energi (makanan),

Bahan organik tidak terlarut dalam air laut berukuran lebih besar dari 0,5 μm. Pada lapisan permukaan air laut material organik tak terlarut ini berupa detritus dan fitoplankton. Pada zona eufotik konsentrasinya lebih tinggi dari lapisan di bawahnya. Bahan organik tak terlarut ini berfungsi menyediakan makanan untuk organisme pada beberapa tingkatan tropik.

  • Sumber bahan keperluan bakteri, tumbuhan maupun hewan.
  • Sebagai zat yang dapat mempercepat dan menghambat pertumbuhan sehingga memiliki peranan penting dalam mengatur kehidupan fitoplankton di perairan.
  • Bahan organik berperan penting untuk menciptakan kesuburan tanah di perairan.

Peranan bahan organik terhadap perbaikan sifat kimia tanah tidak terlepas dalam kaitannya dengan dekomposisi bahan organik, karena pada proses ini terjadi perubahan terhadap komposisi kimia bahan organik dari senyawa yang kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana. Proses yang terjadi dalam dekomposisi yaitu perombakan sisa tanaman atau hewan oleh miroorganisme tanah atau enzim-enzim lainnya, peningkatan biomassa organisme, dan akumulasi serta pelepasan akhir. Hasil dekomposisi bahan organik akan mengekstraksi unsur hara dari batuan mineral yang berguna meningkatkan kesuburan tanah (Anonim, 2008).

  • Bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme. Bahan organik merupakan sumber energi dan bahan makanan bagi mikroorganisme yang hidup di dalam tanah perairan. Mikroorganisme perairan saling berinteraksi dengan kebutuhannya akan bahan organik karena bahan organik menyediakan karbon sebagai sumber energi untuk tumbuh.

 

sumber:

Anonim, 2008, Bahan Organik, (online), (http://id. karieeen.wordpress.com), diakses 3 September 2008, Pukul 11.43 WITA, Makassar.

Achmad, Rukaesih, 2004, Kimia Lingkungan, Andipublisher, Jakarta.

Effendi, Hefni, 2007, Telaah Kualitas Air, Kanisius, Yogyakarta.

Madjid, Abdul, 2008, Bahan Organik Tanah (online), (www.unsri.ac.id), diakses 3 September 2008, Pukul 11.28 WITA, Makassar.

 

About these ads

2 thoughts on “Bahan Organik Perairan

    echa said:
    26 Oktober 2010 pukul 12:29 am

    thnx

    sabet said:
    11 Oktober 2013 pukul 3:26 pm

    hidup MSP !

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s