ikan sebagai alat monitor pencemaran

Ikan sebagai alat monitor pencemaran

Untuk menaksir efek toksiologis dari beberapa polutan kimia dalam lingkungan dapat diuji dengan menggunakan species ysng mewakili lingkungan yang ada di perairan tersebut. Specis yang diuji harus dipilih atas dasr kesamaan biokemis dan fisiologis dari specis dimana hasil percobaan digunakan (Price, 1979). Kriteria organisme yang cocok unutk digunakan sebagai uji hayati tergantung dari beberapa faktor :

1. Organisme harus sensitif terhadap material beracun dan perubahan linkungan

2. Penyebanya luas dan mudah didapat dalam jumlah yang banyak

3. Mempunyai arti ekonomi, rekreasi dan kepentingan ekologi baik secara daerah maupun  nasional

4. Mudah dipelihara dalam laboratorium

5. Mempunyai kondisi yang baik, bebas dari penyakit dan parasit

6. Sesuai untuk kepentingan uji hayati (American Public Health Associaton, 1976 cit. Mason, 1980).

Ikan dapat menunjukkan reaksi terhadap perubahan fisik air maupun terhadap adanya senyawa pencemar yang terlarut dalam batas konsentrasi tertentu. Reaksi ini dapat ditunjukkan dalam percobaan di laboratorim, di mana terjadi perubahan aktivitas pernafasan yang besarnya perobahan diukur atas dsar irama membuka dan menutupnya rongga “Buccal” dan ofer kulum (Mark, 1981). Pengukuran aktivitas pernafasan merupakan cara yang amat peka untuk menguikur reaksi ikan terhadap kehadiran senyawa pencemar. Hasil penelitian yang pernah dilakukan memperlihatkan adanya peningkatan jumlah gerakan ofer kulum “Fingerlink” (Cirrhina Mrigala) yang terkena deterjen (Lal, Misra, Viswanathan dan Krisna Murty, 1984). Sebagai indikator dari toxicant sub lethal juga dapat dilihat dari frekwensi bentuk ikan. Yang mana digunakan untuk membersihkan pembalikan aliran air pada insang, yang merupakan monitoring pergerakan respiratory (Anderson dan Apolonia, 1978). Selain gerakan ofer kulum dan frekwensi batuk parameter darah merupakan indikator yang sensitif pada kehidupan sebagai peringatan awal dari kwalitas air. Perubahan faal drah ikan yang diakibatkan senyawa pencemar, akan timbul sebelum terjadinya kematian (Larsson et al, 1976). Pemeriksaan darah mempunyai kegunaan dalam menentukan adanya gangguan fisiologis tertentu dari ikan. Parameter faal darah dapat diukur dengan mengamati kadar hemoglobin, nilai hematokrit dan jumlah sel darah merah (Goenarsoh, 1988). Ikan mas (Cyprinus Carpio L.) dapat digunakan sebagai hewan uji hayati

karena sangat peka terhadap perubahan lingkungan (Brinley cit. Sudarmadi, 1993). Di Indonesia ikan yang termasuk famili Cyprinidae ini termasuk ikan yang popular dan paling banyak dipelihara rakyat, serta mempunyai nilai ekonomis. Ikan mas sangat peka terhadap faktor lingkungan pada umur lebih kurang tiga bulan dengan ©2003 Digitized by USU digital library 5

ukuran 8-12 cm. Disamping itu ikan mas di kolam biasa (Stagnant water) kecepatan tumbuh 3 cm setiap bulanya (Arsyad dan Hadirini cit. Sudarmadi, 1993). Berdasrkan hasil penelitian bahea konsentrasi limbah, suhu, DO, pH, salinitas dan alkalinitas berpengaruh nyata terhadap mortalitas ikan mas (Cyprinus carpio L.) (Suwindere, 1983). Hal ini disebabkan jika ditinjau secara kimia bahwa kehidupan dan pertumbuhan organisme perairan dipengaruhi oleh pH, DO, BOD, suhu, salinitas dan alkalinitas (Rasyad, 1990). Penelitian tentang kesanggupan ikan mas untuk mendeteksi insektisida memperlihatkan bahwa ikan mas (Cyprinus carpui L.) dapat mendeteksi adanya insektisida bayrusil dalam air pada konsentrasi 55 ppm. Dimana pada konsentrasi tersebut setelah 10 menit ikan mas telah menghidari akan trjadi perubahan frekwensi gerakan ofer kulum yang mula- mula cepat kemudian melambat dan ahirnya lemas (Suin, 1994).\

sumber : Ir. INDRA CHAHAYA S., MSi

LIMBAH PADAT, LIMBAH PANAS, LIMBAH SURFAKTAN DAN LIMBAH RADIOAKTIF

LIMBAH

Limbah adalah semua buangan yang dihasilkan oleh aktivitas manusia dan hewan yang berbentuk padat, lumpur, cair maupun gas yang dibuang karena dianggap (oleh si-penghasil) tidak dibutuhkan atau tidak diinginkan lagi. Limbah juga merupakan suatu bahan yang tidak berarti dan tidak berharga, tapi kita tidak mengetahui bahwa limbah juga bisa menjadi sesuatu yang berguna dan bermanfaat jika diproses secara baik dan benar. Limbah juga bisa berarti sesuatu yang tidak berguna dan dibuang oleh kebanyakan orang, mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak berguna dan jika dibiarkan terlalu lama maka akan menyebabkan penyakit padahal dengan pengolahan sampah secara benar maka bisa menjadikan sampah ini menjadi benda ekonomis.

  1. LIMBAH PADAT

Limbah padat adalah hasil buangan industri yang berupa padatan, lumpur atau bubur yang berasal dari suatu proses pengolahan. Limbah padat berasal dari kegiatan industri dan domestik. Limbah domestik pada umumnya berbentuk limbah padat rumah tangga, limbah padat kegiatan perdagangan, perkantoran, peternakan, pertanian serta dari tempat-tempat umum. Jenis-jenis limbah padat: kertas, kayu, kain, karet/kulit tiruan, plastik, metal, gelas/kaca, organik, bakteri, kulit telur, dll.

Limbah padat apabila dibuang ke air lingkungan (sungai) maka kemungkinan yang dapat terjadi adalah:

  1. a. Pelarutan Limbah Padat oleh Air

Apabila limbah padat larut di dalam air, maka kepekatan air atau berat jenis cairan akan meningkat. Adakalanya pelarutan limbah padat di dalam air akan disertai pula dengan perubahan warna air. Air yang mengandung larutan pekat atau berwarna gelap akan mengurangi penetrasi sinar matahari ke dalam air. Akibatnya, proses fotosintesis tanaman dalam air menjadi terganggu. Jumlah oksigen yang terlarut di dalam air juga akan berkurang. Hal ini sudah tentu berakibat terhadap kehidupan organisme yang hidup di dalam air.

  1. b. Pengendapan Limbah Padat di Dasar Perairan

Limbah padat yang berbentuk kasar (butiran besar) dan berat serta tidak larut dalam air maka limbah tersebut akan mengendap di dasar sungai. Terjadinya endapan di dasar sungai tersebut mengganggu kehidupan organisme di dalam air karena endapan akan menutup permukaan dasar air yang mungkin mengandung telur ikan sehingga telur ikan tersebut tidak dapat menetas.

Di samping itu, adanya endapan tersebut juga menghalangi sumber makanan yang ada di dasar sungai sehingga jumlah makanan bagi ikan menjadi berkurang. Populasi ikan akan menyusut. Endapan juga dapat menghalangi datangnya sinar matahari sehingga proses fotosintesis terganggu.

  1. c. Pembentukan Kolodial yang Melayang di dalam Air

Kolodial terjadi karena limbah padat yang berbentuk halus (butiran kecil) sebagian ada yang larut dan sebagian lagi tidak dapat larut dan tidak dapat mengendap. Kolodial ini melayang di dalam air sehingga air menjadi keruh. Kekeruhan ini akan menghalangi penetrasi sinar matahari ke dalam air. Akibatnya, fotosintesis tanaman di dalam air tidak dapat berlangsung. Kandungan oksigen yang terlarut di dalam air juga akan menurun. Menurunnya kandungan oksigen yang terlarut dalam air akan mempengaruhi kehidupan hewan air.

Limbah pasti akan berdampak negatif pada lingkungan hidup jika tidak ada  pengolahan yang baik dan benar, dengan adanya limbah padat di dalam linkungan hidup maka dapat menimbulkan pencemaran seperti :

1)  Timbulnya gas beracun, seperti asam sulfida (H2S), amoniak (NH3), methan (CH4), C02 dan sebagainya. Gas ini akan timbul jika limbah padat ditimbun dan membusuk dikarena adanya mikroorganisme. Adanya musim hujan dan kemarau, terjadi proses pemecahan bahan organik oleh bakteri penghancur dalam suasana aerob/anaerob.

2)  Dapat menimbulkan penurunan kualitas udara, dalam sampah yang ditumpuk, akan terjadi reaksi kimia seperti gas H2S, NH3 dan methane yang jika melebihi NAB (Nilai Ambang Batas) akan merugikan manusia. Gas H2S 50 ppm dapat mengakibatkan mabuk dan pusing.

3)  Penurunan kualitas air, karena limbah padat biasanya langsung dibuang dalam perairan atau bersama-sama air limbah. Maka akan dapat menyebabkan air menjadi keruh dan rasa dari air pun berubah.

4)  Kerusakan permukaan tanah.

  1. LIMBAH RADIOAKTIF

Limbah radioaktif adalah jenis limbah yang mengandung atau terkontaminasi radionuklida pada konsentrasi atau aktivitas yang melebihi batas yang diijinkan (Clearance level) yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir.

Limbah radioaktif didefinisikan sebagai bahan radioaktif sisa atau yang sudah tidak terpakai, atau bahan yang terkontaminasi dengan sejumlah zat radioaktif pada kadar atau tingkat radioaktivitas yang melampaui nilai batas keselamatan yang ditetapkan.

Limbah radioaktif secara volumetrik jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan limbah industri dan limbah perkotaan. Limbah radioaktif yang telah diolah disimpan sementara di gudang penyimpanan limbah yang kedap air (10-50 tahun) sebelum disimpan secara lestari. Tempat penyimpanan limbah lestari dipilih di tempat/lokasi khusus, dengan kondisi geologi yang stabil.

Pembuangan sisa zat radioaktif ke air lingkungan secara langsung jelas tidak dibolehkan. Akan tetapi mengingat bahwa aplikasi teknologi nuklir yang menggunkan zat radioaktif pada berbagai bidang sudah begitu banyak, seperti aplikasi teknologi nuklir pada bidang pertanian, peternakan, kedokteran, hidrologi, farmasi, pertambangan, industry, dan lain sebagainya, maka tidak tertutup kemungkinan bahwa zat radioaktif ikut terbawa ke lingkungan air.

  1. LIMBAH PANAS

Limbah panas adalah panas yang dihasilkan oleh proses pembakaran bahan bakar atau reaksi kimia, yang kemudian “dibuang” ke lingkungan dan tidak diguna ulang untuk tujuan ekonomis dan bermanfaat. Fakta yang penting adalah bukan masalah jumlah panasnya, namun lebih kepada “nilai” nya. Mekanisme untuk memanfaatkan kembali panas yang tidak digunakan tergantung pada suhu gas panas yang terbuang dan ekonominya.

Sejumlah besar gas buang panas dihasilkan dari boiler, kiln, oven dan tungku. Jika panas terbuang dapat dimanfaatkan kembali maka sejumlah bahan bakar primer dapat dihemat. Energi yang hilang dalam limbah gas tidak seluruhnya dapat dimanfaatkan kembali. Tetapibanyak panas yang dapat dimanfaatkan.

Perubahan kecil pada temperatur air lingkungan bukan saja dapat menghalau ikan atau spesies lainnya, namun juga akan mempercepat proses biologis pada tumbuhan dan hewan bahkan akan menurunkan tingkat oksigen dalam air. Akibatnya akan terjadi kematian pada ikan atau akan terjadi kerusakan ekosistem. Untuk itu, limbah panas inipun harus dihindari. Sebaiknya industri-industri jika akan membuang air buangan ke perairan harus memperhatikan hal ini.

  1. LIMBAH SURFAKTAN

Surfaktan (surface active agents), zat yang dapat mengaktifkan permukaan, karena cenderung untuk terkonsentrasi pada permukaan atau antar muka. Surfaktan mempunyai orientasi yang jelas sehingga cenderung pada rantai lurus. Sabun merupakan salah satu contoh dari surfaktan. Molekul surfaktan mempunyai dua ujung yang terpisah, yaitu ujung polar (hidrofilik) dan ujung non polar (hidrofobik) . Surfaktan dapat digolongkan menjadi dua golongan besar, yaitu surfaktan yang larut dalam minyak dan surfaktan yang larut dalam air.

1. Surfaktan yang larut dalam minyak

Ada tiga yang termasuk dalam golongan ini, yaitu senyawa polar berantai panjang, senyawa fluorokarbon, dan senyawa silikon.

2. Surfaktan yang larut dalam pelarut air

Golongan ini banyak digunakan antara lain sebagai zat pembasah, zat pembusa, zat pengemulsi, zat anti busa, detergen, zat flotasi, pencegah korosi, dan lain-lain. Ada empat yang termasuk dalam golongan ini, yaitu surfaktan anion yang bermuatan negatif, surfaktan yang bermuatan positif, surfaktan nonion yang tak terionisasi dalam larutan, dan surfaktan amfoter yang bermuatan negatif dan positif bergantung pada pH-nya.

Surfaktan menurunkan tegangan permukaan air dengan mematahkan ikatan-ikatan hidrogen pada permukaan. Hal ini dilakukan dengan menaruh kepala-kepala hidrofiliknya pada permukaan air dengan ekor-ekor hidrofobiknya terentang menjauhi permukaan air. Sabun dapat membentuk misel (micelles), suatu molekul sabun mengandung suatu rantai hidrokarbon panjang plus ujung ion. Bagian hidrokarbon dari molekul sabun bersifat hidrofobik dan larut dalam zat-zat non polar, sedangkan ujung ion bersifat hidrofilik dan larut dalam air. Karena adanya rantai hidrokarbon, sebuah molekul sabun secara keseluruhan tidaklah benar-benar larut dalam air, tetapi dengan mudah akan tersuspensi di dalam air.

Contoh dari Limbah Surfaktan:

  1. Sabun

Sabun adalah senyawa garam dari asam-asam lemak tinggi, seperti natrium stearat, C17H35COO-Na+. Aksi pencucian dari sabun banyak dihasilkan dari kekuatan pengemulsian dan kemampuan menurunkan tegangan permukaan air.

Sabun berasal dari asam lemak (stearat, palmitat atau oleat) yang direaksikan dengan basa Na(OH) atau K(OH), berdasarkan reaksi kimia berikut ini :

C17H35COOH + Na(OH) C17H35COONa + H2O

Asam stearat    basa                  sabun

Sabun natron (sabun keras) adalah garam natrium asam lemak seperti pada contoh reaksi di atas. Sedangkan sabun lunak adalah garam kalium asam lemak yang diperoleh dari reaksi asam lemak dengan basa K(OH). Sabun lemak diberi pewarna yang menarik dan pewangi (parfum) yang enak serta bahan antiseptic seperti pada sabun mandi.

Beberapa sifat sabun antara lain adalah sebagai berikut :

  1. Larutan sabun mempunyai sifat membersihkan karena dapat mengemulsikan kotoran yang melekat pada badan atau pakaian
  2. Sabun dengan air sadah tidak dapat membentuk busa, tapi akan membentuk endapan (C17H35COO)2Ca) dengan reaksi:

2 (C17H35COONa) + CaSO4 (C17H35COO)2Ca + Na2SO4

  1. Larutan sabun bereaksi basa karena terjadi hidrolisis sebagian.
  1. Deterjen

Deterjen adalah bahan surfaktan atau bahan aktif permukaan, yang bereaksi dalam menjadikan air menjadi lebih basah (wetter) dan sebagai bahan pencuci yang lebih baik.

Deterjen mempunyai berbagai pengaruh yang membahayakan lingkungan perairan permukaan. Banyaknya kandungan deterjen di permukaan perairan akan menghambat transfer massa, sehingga berbahaya bagi kehidupan laut. GESAMP (1976) ada tiga factor yang menentukan kualitas cemaran deterjen, yaitu:

  1. Non-biodegradable, komponen kimia deterjen sulit diuraikan secara biologic. Ini menyebabkan terbentuknya busa di perairan,
  2. Kandungan fosfat, deterjen biasanya mengandung komponen fosfat. Kondisi menyebabkan terjadinya subur atau banyaknya kandungan unsure hara (fosfor) di Perairan
  3. Mempunyai daya racun langsung pada organisme.

Bahan buangan berupa sabun dan deterjen di dalam air lingkungan akan mengganggu karena alasan berikut :

  1. Larutan sabun akan menaikkan pH air sehingga dapat mengganggu kehidupan organisme di dalam air. Deterjen yang menggunakan bahan non-Fosfat akan menaikkan pH air sampai sekitar 10,5-11.
  2. Bahan antiseptic yang ditambahkan ke dalam sabun/deterjen juga mengganggu kehidupan mikro organisme di dalam air, bahkan dapat mematikan
  3. Ada sebagian bahan sabun atau deterjen yang tidak dapat dipecah (didegradasi) oleh mikro organisme yang ada di dalam air. Keadaan ini sudah barang tentu akan merugikan lingkungan. Namun akhir-akhir ini mulai banyak digunakan bahan sabun/deterjen yang dapat didegradsi oleh mikroorganisme.

Daftar Pustaka

Achmad, Rukaesih. 2004. Kimia Lingkungan. Penerbit ANDI. Yogyakarta.

Pranowo, Galih. Makalah Tentang Limbah Padat. Institut Sains & Teknologi AKPRIND. Yogyakarta.

Supriharyono. 2009. Konservasi Ekosistem Sumberdaya Hayati. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Warlina, Lina. 2004. Pencemaran Air Sumber, Dampak dan Penanggulangannya. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

http://en.wordpress.com/tag/kuliah-kimia/

UJI TOKISISITAS PESTISIDA KARBARIL TERHADAP DAYA TAHAN ANAKAN IKAN NILA (Tilapia nilotica)

KELOMPOK 2
Muh. Hamsir, Dedy Kurniawan, Nurul Chaerani,  Dyni Syamsuri, Asrul Herman, Saiful, dan Fachri Kurnia Bakti.

Abstrak
Dinamika pestisida di lingkungan yang membentuk suatu siklus, terutama jenis pestisida yang persisten. Penggunaan pestisida dapat tersebar di lingkungan sekitarnya; air permukaan, air tanah, tanah dan tanaman Dibandingkan dengan besarnya kandungan residu pestisida dalam tanah, kandungan pestisida dalam air memang lebih rendah. Ini di buktikan dengan penelitian yang di lakukan pada uji toksisitas pestisida karbaril terhadap daya tahan anakan ikan nila (T. nilotica). Meskipun demikian hasil penelitian membuktikan bahwa telah terjadi toksik  pada toples yang berisi anakan ikan nila (T. nilotica)  akibat dari pestisida karbaril.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat toksisitas pestisida karbaril pada konsentrasi 0 ppm, 5 ppm dan 10 ppm terhadap daya tahan anakan  ikan nila   (T. nilotica).  Hasil yang diperoleh dari pengujian tersebut menunjukkan bahwa daya tahan  anakan  ikan nila  (T. nilotica) terhadap pestisida karbaril, mengalami mortalitas tertinggi pada sampel air yang berkonsentrasi 10  ppm  dan  yang  terendah  pada  konsentrasi 0 ppm.

Pendahuluan
Karbaril (1 Naftil Metilkarbamat) adalah bahan kimia dari kelompok karbamat yang digunakan sebagai insektisida. Insektisida karbamat adalah inhibitor reversibel dari enzim asetilkolinesterase. Karbamat mirip dengan asetilkolin tetapi tidak mengalami hidrolisis akhir. Dengan cara ini, karbamat mengganggu sistem saraf dan menyebabkan kematian.

Insektisida ini biasanya daya toksisitasnya rendah terhadap mamalia dibandingkan dengan organofosfat, tetapi sangat efektif untuk membunuh insekta. Struktur karbamate seperti physostigmin, ditemukan secara alamiah dalam kacang Calabar (calabar bean). Bentuk carbaryl telah secara luas dipakai sebagai insektisida dengan komponen aktifnya adalah SevineR.

Metodologi

  • Pengujian dilakukan pada tanggal 26 – 27 April 2010 di Hatchery Jurusan Perikanan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin.
  • Metode yang  dilakukan dengan menguji daya tahan anakan ikan nila (T. nilotica) pada sampel air yang mengandung pestisida karbaril dengan konsentrasi 0 ppm,   5 ppm, dan 10 ppm. Diamati tingkah laku dan daya tahan anakan ikan nila (T. nilotica) pada semua konsentrasi setiap  4 jam selama 24 jam.
  • Data dianalisis melalui uji ANOVA jika ada pengaruh dilanjutkan dengan uji Benferouni dengan menggunakan software GraphPad Prism 5.

Hasil

  • Dari analisis ANOVA pada konsentrasi 0 ppm dengan 5 ppm dan      10 ppm terdapat perbedaan yang nyata.
  • Dari analisis ANOVA pada konsentrasi 5 ppm dan 10 ppm tidak ada perbedaan yang nta terhadap anakan ikan nila (T. nilotica).
  • Tingkat konsentrasi pestisida 0 ppm tidak berpengaruh pada anakan ikan nila (T. nilotica ) sampai pada pengamatan ke VII
  • Tingkat konsentrasi pestisida 5 ppm menyebabkan kematian biota uji. Ini terlihat pada pengamatan ke VII dengan tingkat kehidupan 60 %
  • Tingkat konsentrasi  pestisida 10 ppm menyebabkan kematian biota uji. Ini terlihat mulai  pengamatan ke IV-VII dengan tingkat kehidupan 20%.

Kesimpulan

  • Toksisitas  pestisida  karbaril  pada  anakan  ikan  Nila (T. nilotica) dipengaruhi oleh besarnya konsentrasi pestisida dan lamanya waktu pemaparan pestisida dengan anakan ikan nila (T. nilotica).
  • Semakin tinggi konsentrasi  pestisida pada biota uji maka semakin tinggi pula tingkat kematiannya.
  • Semakin lama waktu pemaparan pestisida terhadap biota uji maka semakin tinggi tingkat kematian biota uji.

Referensi
Manuaba, I.B. Putra. 2008. Cemaran Pestisida Karbamat di Air Danau Buyan Buleleng Bali. Jurusan Kimia FMIPA Universitas     Udayana, Bukit Jimbaran. Bali.

http://bushido02.wordpress.com/2007/11/08/bahaya-pestisida-terhadap-kesehatan-manusia.

Kenaikan Paras Muka Laut 5-10 Milimeter Per Tahun

Kamis, 17 Desember 2009 | 06:58 WIB

Pemandangan sore hari di Pantai Bintan Lagoon Resort.

JAKARTA, KOMPAS.com – Dari hasil pemantauan di beberapa lokasi, laju kenaikan paras muka laut Indonesia mencapai 5-10 milimeter per tahun, jauh di atas perkiraan kenaikan paras muka laut global yang diperkirakan 1,5 milimeter per tahun.

Laju kenaikan rata-rata paras muka laut Indonesia itu dipengaruhi oleh enam faktor, tetapi tidak didominasi perubahan iklim. Demikian diungkapkan Kepala Subdirektorat Mitigasi Bencana dan Pencemaran Lingkungan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Subandono Diposaptono, Selasa (15/12).

Menurut dia, data kenaikan paras muka laut di Indonesia diambil beberapa instansi. Dari pemantauan Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional diperoleh data di Jakarta, Semarang, Jepara, Batam, Kupang, Biak, dan Sorong yang angkanya 5-10 mm per tahun.

Hasil penelitian Institut Teknologi Bandung memperlihatkan laju kenaikan paras laut di Belawan 7,83 mm per tahun, Jakarta 4,38 mm, Semarang 9,27 mm, dan Surabaya 5,47 mm per tahun. Pemantauan Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia untuk Panjang, Lampung, menunjukkan laju kenaikan 4,15 mm per tahun.

Enam faktor

Menurut Subandono, kenaikan paras muka laut sebagai dampak perubahan iklim hanya dipengaruhi dua proses, yaitu pencairan es di kutub dan proses pemuaian air laut akibat pemanasan global. ”Seluruhnya ada enam faktor penyebab,” katanya.

Faktor-faktor lainnya, lanjutnya, adalah meliputi dampak perubahan kerak bumi akibat aktivitas tektonik—penurunan tanah akibat gempa atau aktivitas seismik dan pemampatan tanah akibat kondisi tanah yang labil.

Selain itu, ada penurunan tanah akibat aktivitas manusia, misal pengambilan air tanah, ekstraksi gas dan minyak, atau pembebanan dengan bangunan.

”Faktor keenam, yaitu adanya variasi akibat fluktuasi iklim seperti fenomena La Nina yang membawa aliran air hangat dari Samudra Pasifik ke Indonesia,” kata Subandono. Menurut dia, enam faktor penyebab kenaikan paras muka laut itu penting diketahui untuk menetapkan agenda adaptasi dan mitigasi.

Indonesia terus mendorong perhatian dunia terhadap dampak perubahan iklim di laut. Ini ditengarai dengan makin rusaknya terumbu karang dunia ataupun ekosistem kelautan lainnya. Delegasi Indonesia untuk Konferensi PBB mengenai Perubahan Iklim di Kopenhagen, Denmark, melalui surat elektronik menyampaikan telah menggagas kegiatan paralel Hari Kelautan (The Ocean Day) pada 14 Desember 2009, dibuka Pangeran Monako HSH Prince Albert II.

Mantan Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan DKP Indroyono Soesilo dalam kegiatan paralel itu menekankan pentingnya pengarusutamaan dimensi kelautan dalam proses negosiasi perubahan iklim global.

Menurut Indroyono, program mengatasi dampak perubahan iklim dalam kaitan pencapaian Tujuan Pembangunan Millenium (MDGs) perlu diwujudkan secara nyata. Kegiatan paralel dihadiri sekitar 150 peserta dari 39 negara yang menaruh perhatian terhadap isu kelautan, pesisir, dan pulau-pulau kecil yang perlu segera ditangani. (NAW)

Siput Pertama Berbadan Setengah Flora Setengah Fauna

Rabu, 13 Januari 2010 | 18:27 WIB

Siput laut Elysia chlorotica tak perlu lagi makan untuk mendapat energi karena bisa mencuri gen untuk menghasilkan klorofil, dan mencuri kloroplas sehingga bisa berfotosintesis dengan klorofilnya itu

KOMPAS.com — Tampaknya siput laut ini makhluk pertama yang tubuhnya setengah flora setengah fauna. Pasalnya, siput yang baru ditemukan ini bisa menghasilkan pigmen klorofil seperti layaknya tumbuh-tumbuhan.

Para ilmuwan memperkirakan, siput cerdik tersebut mencuri gen dari alga yang mereka makan sehingga bisa menghasilkan klorofil. Dengan gen “curian”, mereka bisa berfotosintesis, yaitu proses tumbuhan untuk mengubah cahaya matahari menjadi energi.

“Hewan ini bisa membuat molekul berisi energi tanpa makan apa-apa,” kata Sydney Pierce, pakar biologi dari Universitas South Florida di Tampa. Pierce telah mempelajari mahluk unik tersebut, yang telah resmi dinamakan Elysia chlorotica, selama 20 tahun.

Ia mengajukan temuan terbarunya pada tanggal 7 Januari 2010, pada pertemuan tahunan Komunitas Integratif dan Perbandingan Biologi di Seattle. Temuan ini dilaporkan pertama kali oleh jurnal Science. “Ini pertama kalinya hewan multiseluler bisa menghasilkan klorofil,” tutur Pierce.

Siput laut ini tinggal di rawa-rawa air asin di New England, Kanada. Selain “mencuri” gen untuk menghasilkan pigmen hijau klorofil, hewan ini juga mencuri bagian-bagian kecil sel yang disebut kloroplas, yang dipakai untuk melakukan fotosintesis. Kloroplas menggunakan klorofil untuk mengubah cahaya matahari menjadi energi, seperti tanaman, sehingga hewan ini tak perlu makan untuk mendapatkan energi.

“Kami mengumpulkan sejumlah hewan tersebut dan menyimpannya di akuarium selama berbulan-bulan,” kata Pierce, “Asalkan diberi cahaya selama 12 jam sehari, mereka bisa bertahan (tanpa makan).”

Para peneliti memakai pelacak radioaktif untuk memastikan bahwa siput-siput ini benar-benar menghasilkan klorofil, dan bukan mencurinya dari pigmen yang sudah pada alga. Nyatanya, siput-siput ini mengintegrasikan materi genetika dengan sangat sempurna sehingga bisa diturunkan pada generasi selanjutnya.

Anak-anak dari siput yang sudah “mencuri” gen juga bisa menghasilkan klorofil sendiri, walaupun mereka tak bisa berfotosintesis sebelum mereka makan cukup alga hingga bisa “mencuri” cukup kloroplas. Sejauh ini, kloroplasnya belum bisa mereka produksi sendiri. Keberhasilan siput-siput ini mengagumkan, dan para ilmuwan juga masih belum bisa memastikan, bagaimana hewan ini bisa memilih gen yang mereka butuhkan.

“Mungkin saja DNA dari satu spesies bisa masuk ke spesies yang lain, seperti yang telah dibuktikan oleh siput jenis ini. Tapi mekanismenya masih belum diketahui,” ungkap Pierce.

Si Raja Laut Mulai Diteliti Lebih Dalam

Selasa, 11 Agustus 2009 | 22:56 WIB

nationalgeographic.com

JAKARTA, KOMPAS.com – Diam-diam, Indonesia memendam kekayaan alam yang melegenda. Selain komodo, kini ditemukan juga ikan purba Coelacanth yang disebut sebagai Raja Laut atau King of The Sea.

Ikan yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan pada tahun 1938 ini telah memupus anggapan para ilmuwan bahwa ikan purba ini telah punah 65 juta tahun lalu. Tahun 1998, Coelacanth kembali ditemukan di Pulau Manado Tua, Sulawesi Utara yang kemudian diberi nama Latimeria chalumnae.

Untuk menunjukkan kepeduliannya terhadap sosialisasi ikan purba berlidah ini, SeaWorld Indonesia bekerja sama dengan Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP) akan melakukan penelitian lebih dalam terhadap spesimen ikan tersebut. Spesimen ketiga yang ditemukan di perairan Pulau Talise, Manado pada tanggal 25 November 2008 inilah yang akan diteliti oleh tim peneliti.

Sebelumnya, penelitian serupa telah dilakukan oleh para peneliti Jepang. Namun untuk pertama kalinya penelitian ikan ini akan didukung oleh para peneliti dari dalam negeri.

“Saya bertekad tim kali ini 100 persen murni para peneliti Indonesia. Ini adalah ajang kita untuk unjuk gigi bahwa kita juga bisa setara dengan peneliti asing,” ujar Dr. Sudarto, Ketua Peneliti dalam konferensi pers Preservasi dan Pengamanan Sampel Ilmiah Coelacanth, Selasa (11/8).

Tim peneliti tersebut akan melakukan pembedahan terhadap ikan ini untuk meneliti semua karakter yang ada pada ikan tersebut seperti morfologi, genetika, reproduksi, nutrisi, DNA, dan lain-lain. Setelah dibedah, ikan ini akan dijahit kembali kemudian diawetkan dalam formalin.

Fisik ikan yang mempunyai panjang 111,1 cm dan berat 21 kg ini akan dipamerkan di SeaWorld, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara. Hasil penelitiannya akan menambah koleksi ilmiah di sana.

“Kita beruntung bisa punya fisiknya. Kalau di luar negeri hanya ada informasi-informasinya saja berupa foto-foto dan film-film,” tutur Yongki E. Salim, Presiden Direktur PT. SeaWorld Indonesia.

Dia menambahkan, tim peneliti ini akan membuat sesuatu yang besar dan akan membuat sejarah untuk bangsa ini. Semoga hasilnya dapat berguna bagi anak bangsa.

Ribuan Mahluk Aneh Ditemukan di Kegelapan Samudera

Senin, 23 November 2009 | 18:27 WIB

Timun laut dengan tubuh transparan ditemukan di kedalaman 2,750 meter di dekat Teluk Mexico.

NEW ORLEANS, KOMPAS.com – Makhluk-makhluk asing dengan bentuk tubuh yang aneh ditemukan dari dasar samudera selama survei kelautan terakhir. Ada timun laut transparan bersulur, ikan yang mengepakkan sepasang sirip besar seperti telinga ‘dumbo’ karakter gajah Walt Disney, dan cacing tabung yang memakan minyak.

Laporan yang dikeluarkan hari Minggu (23/11) itu mencatat, 17.650 spesies yang hidup di bawah 656 kaki (kira-kira 200 m) dari permukaan laut, di tempat yang tak tersentuh cahaya matahari. Penemuan ini merupakan hasil terbaru dari sensus 10-tahunan bagi satwa laut.

“Bagian-bagian dari dasar lautan yang tadinya kita kira serupa ternyata sangat kompleks,” kata Robert S. Carney, pakar oseanografi dari Universitas Negara Bagian Louisiana dan juga peneliti terkemuka mengenai dasar lautan.

Ribuan spesies lautan bertahan hidup di kedalaman samudera yang gelap gulita dengan cara mengkonsumsi bahan-bahan yang membusuk yang perlahan tenggelam termasuk tulang-belulang dari ikan paus. Menurut laporan itu, minyak dan metana juga menjadi sumber energi untuk penghuni dasar lautan ini.

Dengan laporan ini, para peneliti telah menemukan sekitar 5.600 spesies baru di samping 230.000 yang telah tercatat sebelumnya. Mereka memperkirakan daftar spesies baru yang ditemukan akan bertambah beberapa ribu lagi menjelang bulan Oktober 2010, ketika sensus akan diselesaikan. Para ilmuwan juga mengaku telah menemukan 5.722 spesies hidup di kedalaman ekstrim samudera, di perairan yang lebih dalam dari 3.280 kaki (kira-kira 975 m).

“Dasar lautan tadinya dianggap seperti gurun tanpa penghuni hingga akhir-akhir ini; cukup mengagumkan untuk mendokumentasi lebih dari 20.000 jenis spesies di daerah yang tadinya disangka tak berkehidupan,” kata Jesse Ausubel dari yayasan Alfred P. Sloan, sponsor dari sensus ini.

“Dasar lautan adalah daerah yang paling sedikit terjelajah di bumi,” tambahnya. Para ilmuwan menyatakan saat ini diperkirakan ada lebih dari sejuta spesies laut yang masih tak diketahui. Bandingkan dengan daratan, di mana para pakar biologi telah mendaftar sekitar 1,5 juta flora dan fauna.

Lebih dari 40 spesies baru karang didokumentasikan di pegunungan di dasar lautan, dan juga hamparan brittlestar dan anemon seluas kota-kota. Hampir 500 spesies baru, mulai dari mahluk sel tunggal hingga cumi-cumi besar telah ditemukan di kedalaman dataran dan palungan samudera.

Satu penemuan penting lainnya adalah bahwa 170 spesies baru tersebut mendapatkan energi dari bahan kimia yang dikeluarkan dari lubang-lubang di dasar samudera. Salah satunya adalah familia ‘kepiting yeti’, yang berbulu halus di kaki-kakinya.

“Di tengah Samudera Atlantis, para peneliti menemukan 40 spesies baru dari total 1.000 yang ada,” kata Odd Aksel Bergstad, pakar oseanografi dari Universitas Bergen, Norwegia, yang berada di kepulauan Azores ketika diwawancara lewat telepon.

“Saya terkejut menemukan banyaknya kehidupan di tengah samudera,” katanya. “Bahkan tak ada peta yang bagus untuk daerah ini. Pemahaman kita ada keanekaragaman biologis di sini sangat terbatas,” jelasnya.

Lebih dari 2.000 ilmuwan dari 80 negara sedang bekerja untuk mengkatalog spesies-spesies di lautan. Namun, meneliti jurang dasar laut cukup mahal dan sulit karena membutuhkan kamera untuk kedalaman ekstrim, sonar, dan kendaraan kendali jarak jauh yang memakan 50.000 USD per hari.

Begitu sensus selesai, direncanakan penerbitan tiga buku: survei populer satwa laut, lalu buku kedua dengan bab terpisah untuk tiap grup kerja, dan yang ketiga berfokus pada keanekaragaman biologis.

Udang Baru Tanpa Mata Ditemukan

Senin, 31 Agustus 2009 | 10:55 WIB

Speleonectes atlantida, krustasea baru tanpa mata yang memanfaatkansungut-sungut di sepanjang tubuhnya dan antena di kepalanya untuk merasakan lingkungan sekitarnya.

KOMPAS.com – Krustasea (udang-udangan) tanpa mata jenis baru ditemukan di goa bawah air terpanjang di dunia di Pulau Lanzarote yang masih wilayah Kepulauan Canary (kekuasaan Spanyol). Speleonectes atlantida, demikian nama hewan itu dinamai sesuai dengan tempat ditemukannya di Terowongan Atlantida, berukuran panjang 20 milimeter.

Makhluk aneh itu diduga termasuk kelompok udang purba yang dulu banyak berkeliaran di lautan Mesozoik lebih dari 200 juta tahun lalu. Makhluk tanpa tulang belakang itu termasuk ke kelompok krustasea unik yang disebut Remipedia. Jenis itu pertama kali diidentifikasi para ilmuwan tahun 1979.

Terdapat 22 jenis Remipedia yang sudah diketahui menghuni kegelapan perairan di goa-goa bawah air di seluruh dunia, mulai dari Bahama hingga barat Australia. ”Krustasea baru ini dilengkapi sengat tajam beracun yang berfungsi sebagai jarum injeksi,” ujar Stefan Koenemann dari Institute for Animal Ecology and Cell Biology University of Veterinary Medicine Hannover, Jerman. (INE)

Peneliti Taiwan Temukan Kepiting Stroberi

Rabu, 6 Januari 2010 | 10:05 WIB

KOMPAS.com — Tim peneliti biologi laut Taiwan dari National Taiwan Ocean University yang dipimpin oleh ahli biologi laut, Ho Ping Ho, menemukan dua kepiting betina spesies baru yang berwarna merah menyala dengan bintil-bintil berwarna putih persis seperti buah stroberi yang berukuran besar.

Kedua kepiting spesies baru ini ditemukan di daerah lepas pantai bagian selatan Taiwan ketika tim peneliti Ho sedang melakukan penelitian mengenai dampak kapal-kapal yang karam terhadap lingkungan dan biota laut pada Juni 2009 di kawasan pantai selatan Taman Nasional Kenting. Kawasan taman nasional ini dikenal kaya akan satwa laut yang beraneka ragam.

”Pada saat kami temukan, satu ekor sudah dalam kondisi mati, sementara satu ekor lagi dalam kondisi hampir mati di pantai Chialoshui. Untung saja kebocoran minyak yang berasal dari kapal-kapal yang karam dan kapal kargo yang lalu lalang tidak terlalu serius. Kalau serius, berbahaya karena bisa jadi kedua kepiting spesies baru itu terkena polusi, mati, dan tidak akan kita temukan,” kata Ho, Selasa (5/1/2010).

Setelah memeriksa satu per satu kumpulan data spesies kepiting yang ada di seluruh dunia yang mencapai sekitar 10.000 spesies sekaligus berkonsultasi dengan para pakar dari sejumlah negara, Ho kemudian yakin ia dan timnya berhasil menemukan spesies baru yang kemudian mereka beri nama ”kepiting stroberi”.

Menurut Ho, kepiting stroberi spesies itu terlihat agak mirip dengan spesies kepiting lain yang bernama Neoliomera pubescens dan tinggal di daerah-daerah seperti Hawaii, Polynesia, dan Mauritius. Hanya saja, kepiting stroberi ini menjadi berbeda karena kulit cangkangnya yang berbentuk seperti kerang dan memiliki lebar sekitar 2,5 sentimeter.

”Kami akan secara formal mengumumkan penemuan ini dalam artikel yang akan dipublikasikan di majalah Crustaceana terbitan Belanda,” kata Ho yang saat ini tengah mengkaji ulang temuannya itu. Tim peneliti dari National University of Singapore juga mengaku pernah menemukan kepiting stroberi jantan di kawasan kepulauan Pasifik. (AP/LUK)

Laut Asam, Telinga Bertambah Besar

Minggu, 28 Juni 2009 | 16:29 WIB

-

KOMPAS.com -Karbon dioksida (CO2) yang menyebabkan lautan menjadi asam ternyata mengakibatkan telinga ikan bertambah besar ukurannya. Telinga ikan tidak terlihat karena berada di dalam tubuhnya.

Seperti pada manusia, telinga ikan juga berfungsi mengatur gerakan. Ahli biologi oseanografi, David M Checkley dari The Scripps Institution of Oceanography di University of California, San Diego, melakukan percobaan, membesarkan ikan bas di perairan dengan kandungan CO2 enam kali lipat level normal. Ternyata otolit (tulang kuping) ikan tumbuh 15-17 persen lebih besar dari ukuran normal.

Percobaan lalu dilakukan pada air laut dengan kandungan CO2 sebesar 3,5 kali lipat kandungan normal—perkiraan kandungan CO2 pada tahun 2100—ternyata otolit ikan membesar 7-9 persen. Penelitian selanjutnya adalah untuk mengetahui adakah dampak jangka panjang kondisi tersebut pada ikan. (ISW)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.